Tokoh

Abdul Chalim

Abdul Chalim

Hati Lie Kwong Ling sempat bimbang. Meski merasa cukup materi, namun ia belum menemukan kebahagiaan batin. Maka, ia pun memulai perjalanan mencari Tuhan Akhirnya setelah sempat memeluk beberapa agama, ia kini mantab menjadi muslim.

Di balik tubuhnya yang subur. tak ada yang menyangka bahwa pria 54 tahun ini adalah mantan juara dunia gulat dua kali. Ia juga mengoleksi 13 medali untuk kejuaraan gulat tingkat nasional. Singkat kata, pria ini adalah salah satu pahlawan olah raga Indonesia di cabang gulat.

la terlahir dengan nama Lie Kwong Ling. Baru pada usia 28 tahun ia mengganti namanya menjadi Abdul Chalim. Itu seiring dengan keputusannya menjadi seorang muslim. Chalim sempat berpetualang ‘mencari’ Tuhan. Lantaran apa yang diperolehnya saat itu, menjadi orang yang tenar karena prestasi dan materi yang melimpah, ternyata tak memberikan ketenangan batin. “Saya sempat keluar masuk dari agama satu ke agama lain, juga sempat memeluk beberapa aliran kepercayaan,” ujar Chalim ditemui dirumahnya di kawasan Perumahan Palm Springs. Karah, awal Ramadan lalu.

Sejenak Chalim menghentikan ceritanya untuk mengenang perjalanan batinnya. Sementara di beberapa sudut rumahnya terpampang beberapa foto kenangan. Ada foto ketika ia diundang menjadi bintang tamu di acara talkshow Empat Mata. Ada lagi foto ketika la sedang membisikkan sesuatu ke KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). la pun kembali menceritakan perjalanan hidupnya mengapa masuk Islam. “Sederhana saja. Dalam Islam saya temukan selama ini yang saya cari, yaitu ketenangan batin.” jawab Chalim.

Suami Nyoo Lies Nio ini begitu tertarik dengan semangat kebersamaan dalam Islam. Begitu juga ketika dia memperhatikan pemeluk Islam menjalankan ritual agamanya. Menariknya, sebelum menjadi muslim, dia mengaku telah dua kali khatam Alquran. `Saya ingat, dulu saya bisa menangis ketika baca Alquran,” kenang Chalim. Sebagai muallaf, banyak hal dia alami. Termasuk ujian dari Sang Khalik. Salah satunya adalah keterpurukan ekonomi yang sempat dialaminya. “Dulu saya punya usaha bengkel sepeda motor. Banyak teman yang ngecap saya pengkhianat. Akhirnya, banyak pelanggan yang lari dari bengkel saya,” kata Chalim.

Meski menemui kesulitan ekonomi. Chalim tak menyerah. “Saya tahu. Allah tidak akan memberikan ujian yang tidak akan kuat ditanggung hambanya. Allah sudah mengukur semuanya,” tutur Chalim. Ayah dari Siti Khomariyah. Muhammad Amil, dan Siti Maysaroh ini sempat mbrebes mili ketika bercerita sebuah kenangannya ketika itu. “Saya masih ingat betul, bagaimana saya ketika jatuh miskin, ingin sekali punya sarung Samarinda. Saya ingin sekali sujud dengan sarung itu,” kenang Chalim dengan suara terbata¬bata.

Dengan cara tak terduga. doa Chalim dikabulkan. Dia diundang ke sebuah penga¬jian. “Eh, pulang pengajian itu saya diberi bingkisan. Saya buka isinya sarung Samarinda dengan warna yang persis seperti yang saya idam-idamkan.” kata Chalim sumringah.

Keagungan Allah SWT terus dirasakan dalam setiap doanya. Setahun setelah memeluk Islam, la mendapat undangan dari Raja Fahd, yang bertahta di Arab Saudi, untuk menunaikan ibadah haji. “Di sana, ternyata saya satu rombongan dengan petinju Muhammad Ali.” kata peraih Asia Pacific Economy Award ini bangga.

Dari belajar Islam untuk mencari ketenangan batin diri sendiri. Chalim lalu mencoba berdakwah pada beberapa kerabat dan teman. Gayung bersambut, beberapa teman¬nya tertarik memeluk Islam. Bersama beberapa rekan. Chalim lalu mendirikan PITI (Persatuan Iman Tauhid Indonesia). Dari sini, berdirilah Masjid Cheng Hoo Surabaya yang terkenal karena bergaya arsitektur Tiongkok itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s